
ELEGI LEBARAN
by Afifah Afra
Lebaran yang barusan lewat, entah mengapa, ada yang terasa hilang—jauh di lubuk hati sana. Terasa nyenyet. Ingin melacaknya, tetapi jalur pelacakan itu seperti tertutup kumparan mendung. Ndak tahu ya, rasanya kok biasa banget, tidak seperti masa-masa beberapa tahun silam, saat saya masih culun, masih menjadikan lebaran sebagai special day dalam artian yang lebih runcing. Lebih menikam, lebih khusus dari sekadar ritualisme tahunan.
Lebaran bagi saya saat kecil adalah: baju baru, dor-doran mercon, ketupat, opor ayam, kering tempe, kue-kue, angpao dari seabrek family… Maka, ketika rezeki ortu cupet, lagu Dea Ananda benar-benar mampu menghibur kesedihan masa kanak-kanak saya:
Baju baru alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak ada pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama
Saat beranjak besar, menjadi remaja, kemeriahan itu bertambah satu lagi: bertemu dengan sanak sodara yang pada merantau. Maklum, saya ini berasal dari keluarga besar. Bapak dianugerahi 8 anak oleh Allah. Saya nomor 6. Dari 8 orang itu, 5 di antaranya perantau. Mbak yang sulung merantau ke Jakarta, demikian juga Mbak nomor 5. Sedangkan Mbak nomor 4 merantau di Surabaya. Saya sendiri menuntut ilmu di Semarang, sekota—namun berbeda universitas dengan adik saya, anak nomor 7. Karena anak nomor 2 dan 3 sudah menikah dan hidup terpisah dengan ortu, meski masih satu kampung, praktis rumah ortu yang luas itu terasa senyap karena hanya ditempati bapak, ibu dan si bungsu. Pembantu? Hm… selain penghasilan ortu pas-pasan, ibu saya adalah seorang yang begitu perkasa—seperti tak pernah kehabisan tenaga, meski komplek rumah saya nyaris seluas 500 meter persegi, rasanya tak ada yang terbengkalai hingga sudut-sudutnya.
Bisa dibayangkan, lebaran adalah saat-saat yang indah, saat-saat mempertemukan raga yang terpisah. Rumah yang keseharian begitu senyap, menjadi ramai—seperti pasar kaget. Saat itu, dari 8 anak, baru 3 yang menikah, yakni nomor 1, 2 dan 3. Kakak pertama selalu datang bersama suami dan anak-anaknya. Kakak kedua dan ketiga ikut meramaikan suasana. Tumplek blek personil keluarga besar membuat rumah benar-benar berantakan. Bale rumah beralih fungsi menjadi lapangan volley. Keponakan saya—Angga, Galang, Aji, Damar… dimeriahkan oleh kedua adik saya, Anang dan Uut yang selalu saja ‘berubah’ menjadi kanak-kanak meski ‘dedeg’nya remaja—main lempar tangkap bola dan…
“Pyaaar…!!”
“Auuw!!” Mbak Tini, kakak nomor 5 menjerit, vas bunga kesayangannya remuk. Riuh sesaat, tapi tak ada dendam.
Sehari sebelum ramadhan, rasa-rasanya seperti sedang punya hajatan. Semua sibuk dengan fokus keahliannya masing-masing. Ada yang bikin kue—sagon tabur, kacang bawang, telur gabus, kembang goyang, nastar, kue kacang… hm…; ada yang mengasah pisau di kebun, menyembelih seekor dua ekor ayam jago yang akan kami sulap menjadi opor nan lezat; ada yang menganyam janur-janur kuning menjadi ketupat; ada juga yang sibuk memasang kancing baju baru atau mengesum baju, membantu ibu yang memang berprofesi sebagai penjahit. Sesaat menjelang lebaran, para pelanggan berdatangan, mengambil baju-baju mereka yang dijahitkan, tentu disertai dengan pembayaran ongkos jahitan. Tak seberapa, namun cukup berarti. Bapak yang hanya guru SD (kalau guru SD zaman sekarang gajinya sih lumayan, nggak seperti saat itu), dengan gaji yang banyak bolong-bolong karena potongan, tak akan bisa diandalkan untuk membiayai gemah ripah lebaran—yang meski tak mewah, namun tetap menuntut biaya. Senyum gembira seakan menghilangkan kerut keletihan di wajah ibu yang saat ramadhan benar-benar kurang tidur, selain beribadah di malam hari, juga melembur garapan baju-baju itu. Ah, ya… baju-baju itu jugalah yang terkadang menyelamatkan kuliahku—selain jatah ‘beasiswa’ dari kakakku yang bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik garmen.
Menjelang adzan maghrib di puasa terakhir, suasana meriah menjalar hingga relung hati. Para keponakan berteriak-teriak kegirangan mendengar suara beduk bertalu-talu di masjid. Bau sedap opor ayam terasa dari dapur rumah kami yang saat itu masih mengandalkan energi kayu bakar. Lezatnya ketupat yang tanak mencubit-cubit selera makan. Riuh rendah dan gelak tawa para saudara memaksa bibir untuk tersenyum lebar bahkan terbahak.
Lantas, malam takbiran. Kami berkumpul di ruang depan yang luas. Menunggu takbir keliling dengan atraksi obornya. Atau justru terlibat ‘berhallo-hallo’ dengan mikropon, menyenandung takbir di masjid, seraya merasakan nikmatnya kue-kue yang dipasok warga setempat khusus untuk para jamaah masjid yang bertakbir. Aku yang perempuan jelas tak mungkin berlama-lama, berbeda dengan adikku, Anang yang juga takmir masjid, yang bisa semalaman menyanyikan lagu-lagu cinta untuk Sang Maha Pecinta.
Paginya, mulai jam 4 pagi, antrean panjang terjadi di depan kamar mandi. Kritikan yang ‘begitu-begitu aja’ pun keluar bertubi-tubi. Gimana sih, tahu anggota rumah banyak kok kamar mandi cuman satu… Bapak cengar-cengir saja, santai… hm, moga-moga sikap bapak tidak ditiru oleh para pejabat. Tahu tiap lebaran pemudik membeludak kok tidak ada antisipasi. Ups, malah bapak selangkah lebih maju daripada para pejabat. Saat ini, di rumah ortu ada 3 kamar mandi, meski hanya 2 yang bisa dipakai orang dewasa. Yang satu… khusus untuk anak-anak. Jangan kaget, air bisa mengalir 24 jam tanpa henti tanpa harus bayar sepeser uang pun. Maklum, bapak mengambil air langsung dari sumber air, memakai pipa. Biayanya pas pada pemasangan doang, plus kalau ada kerusakan, buat biaya perbaikan. Karena berlebih, bapak membuat kolam ikan, 5 kolam sekaligus. Airnya dijamin sueger… persis air di Tawangmangu. Ya, rumah ortu memang terletak di kaki Gunung Slamet, kira-kira ketinggian 700-800 m dpl.
Habis mandi, semua berdandan, memakai baju terbaik. Para anak-anak, jelas baju baru. Yang remaja dan dewasa, tak selalu. Tetapi yang jelas kami terlihat cantik dan ganteng. Dan catat, sebagian dari kami adalah lajang!!
Lantas, kami pun berjalan ke lapangan sepak bola desa kami, kira-kira 1 KM dari rumah. Ribuan jamaah berduyun-duyun memenuhi lapangan, menciptakan panorama yang apik, baik dilihat dari mata fisik maupun diresapi oleh mata batin. Gemuruh takbir menggema. Tak terasa air mata mengucur deras. Kutatap langit, awan ikut bertakbir. Kutatap gunung Slamet… ia juga bertakbir. Lantas, shalat berjamaah. Ribuan jamaah puteri dengan mukena putihnya berbaris, ketika mereka serempak bersujud, mirip alunan ombak yang bergulung-gulung di lautan luas nan damai…
Allahu Abar… Allahu Akbar… Allahu Akbar
Laa Ilaaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar walilahilhamd…
Usai shalat, kami bersalam-salaman dengan jamaah yang lain. Terasa melelahkan, sehingga ketika saatnya tiba, saat kami menyantap hidangan khas: sepiring ketupat dan opor ayam serta kering tempe, nikmatnya melejit hingga tulang ubun-ubun.
Seperti biasa, kami pun berkeliling, mengunjungi sanak-saudara… bersalaman, ngobrol-ngobrol, makan-makan, tertawa-tawa… (selera humor keluarga besar kami terkadang mengalahkan banyolan Thukul lho…).
* * *
Jauh sebelum lebaran tahun ini, saya telah membisiki suami saya, “Mas… saya ingin merasakan takbiran dan shalat ied di kampung.”
Suami saya mengangguk, maklum. Ya, Ini adalah lebaran kelima pasca saya menikah dengannya. Lebaran pertama, saya hamil besar sehingga memutuskan tidak pulang kampung. Takbiran dan shalat Ied di Solo. Saya sudah bersikeras untuk pulang, karena HPL adalah 2 mingu pasca lebaran. Suami ngotot. Dan ia benar, hari ke-3 saya mulai kontraksi dan hari ke-4, jam 09.00, saya melahirkan. Lebaran kedua, kami takbiran dan shalat ied di rumah suami—Purworejo. Lebaran ketiga, lagi-lagi hamil besar. Kali ini saya malah masuk RS dan melahirkan hari terakhir puasa (kalau versi Muhamadiyyah 1 Syawwal). Karena RS yang saya masuki adalah RSU PKU Muhammadiyah, maka ketika para perawat dan dokter berjibaku menolong saya melahirkan—saat itu KPD—di halaman RSU sedang berlangsung shalat Ied. Lebaran keempat, lagi-lagi takbiran dan shalat ied di rumah Mertua.
Maka, saya pun benar-benar bersemangat ketika pulang kampung. Namun, alangkah lemas kaki saya saat itu. Kakak pertama sakbrayat—bersama suami dan ketiga puteranya—tidak pulang kampung. Lebaran di Sragen. Kakak kedua, ketiga dan keempat memang menetap di kampung yang sama dengan ortu, namun mereka telah memiliki rumah masing-masing. Kakak kelima mudik ke Madiun, ikut suami. Adik saya Anang, lebaran di rumah Mertua di Solo. Praktis di rumah besar itu hanya ada bapak, ibu, saya sekeluarga dan si bungsu—satu-satunya yang masih lajang.
Takbiran terasa hampa. Ketika aku mengajak anak-anakku—Anis dan Rama menunggu atraksi obor, ternyata yang hadir hanya serombongan pendek anak-anak kecil yang membawa lilin dengan botol aqua. Bagi Anis dan Rama, ini hebat. Tetapi bagiku yang pernah menyaksikan atraksi obor sangat unik dengan peserta ribuan orang disertai dengan beduk bertalu-talu, ini bukan apa-apa.
Takbiran terasa nyenyet. Ibu yang tampak sedih karena anak-anaknya tak berkumpul—namun mencoba menutupinya—malah kelelahan dan tertidur sebelum jam 9. Bapak yang memang sudah lama sakit-sakitan juga tidur usai shalat Isya. Uut, satu-satunya anak selain diriku, juga terkantuk-kantuk. Sementara suami masih dalam perjalanan. Saya masih mencoba mencari sesuatu yang hilang itu. Saya mengajak Uut untuk bersilaturahim di rumah kakakku nomor 4. Tetapi, mereka pun sudah nyaris ‘off’, hampir tertidur. Karena tak mau menganggu, kami pun pamitan. Akhirnya, karena putus asa, aku pun memutuskan untuk ‘ngeloni’ anak-anak. Pukul 10 malam, suara mobil memasuki halaman. Mas Ahmad. Aku terlonjak gembira. Namun, begitu sampai di rumah, yang ia lakukan adalah, mandi, minum seteguk air dan… tertidur. Ia terlihat sangat capai.
* * *
Paginya, saya memang menikmati kekhusyuan shalat ied di lapangan yang tak sepenuh biasanya—mungkin karena sebagian warganya berlebaran di tempat lain—seperti yang terjadi di keluargaku. Meski Rama dan Anis justru menangis mungkin karena tak biasa berada dalam kerumunan ribuan manusia, kupaksa untuk larut dalam lantunan ayat-ayat yang dibaca imam.
Usai shalat, semua berjalan begitu nyenyet. Tak ada keriuhan, canda-tawa. Ya… ada yang hilang… kebersamaan itu. Kini aku menyadari, bahwa semua telah berubah. Kakak-kakak, adik-adik, telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Bahkan aku pun telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Ya, kami—para anak—mungkin bisa menikmati kebersamaan itu dengan kehidupan yang baru. Namun bagaimana dengan bapak? Dengan Ibu?
Apakah mereka telah siap dengan kehilangan itu? Dan bagaimana dengan saya kelak. Apakah saya siap jika satu per satu anak-anak kami menikah, berkeluarga dan sibuk dengan kehidupan baru ‘mereka’?
Rona kesedihan terpatri begitu dalam ketika akhirnya aku berpamitan. Aku, suami dan anak-anak harus beranjak ke Purworejo, mengunjungi mertua. Rumah besar itu pun tampak muram….
“Anak satu sama anak delapan sama saja,” keluh Ibu pada adiknya yang memang baru dianugerahi satu orang anak di suatu hari, yang sempat tertangkap pendengaranku. “Saatnya tiba, kita orang tua akan ditinggalkan oleh mereka.”
“Bagaimana dengan kita kelak, Mas?!” ujarnya pada Mas Ahmad, suamiku.
“Anak kita bukanlah milik kita, mereka adalah milik zamannya…” Jawab suamiku, kalem, dan bijak.
* * *
Akhirnya saya hanya bisa berpuisi:
Maafmu, pengetuk surga.
Selusupkan maafmu di ujung jemariku
Agar kuasa kuketuk pintu surga-Nya
Taqobbalallahu minna wa minkum