Sabtu, 30 Mei 2009

Pengumuman

Buat teman-teman yang ingin mengakses informasi, tulisan-tulisan dsb dari saya, bisa klik di www.afifahafra.com
Matur nuwun
Thank you
Arigato gozaimashu
Jazzaakumullahu khairan jazza

Kamis, 11 Desember 2008

Suka Duka Ditinggal "MH"


Dear blogger... ketika website pribadi saya udah launching, http://www.afifahafra.com/ sebenarnya ada niatan buat nutub blog ini. Tapi kok eman2 ya... bagaimanapun blog is different, beda sama website pribadi. So, kalau tampilan blog saya selama ini rada2 formil, sekarang saya mau bikin blog ini jadi lebih nyantai... wiii:-)

Sebenarnya, saya ini lagi sedih sekaligus senang, nah lho... (kata teman2 saya ini makhluk ajaib. tesa dan antitesa bisa sekaligus bergumul dalam hati saja, dalam waktu yang sama... hoho). Pasalnya, my husband, kekasihku tersayang, my first love (beneer, saya belum pernah pacaran sebelum ketemu dia, dan juga gak pakai proses pacaran, dikenalin, ketemu, kenalan, lamaran, walimahan) selama 40 hari ini sedang tak membersamai. My husband terbang ke tanah suci, jadi haji Abidin (atas biaya dinas).


Ceritanya ajaib, menandakan bahwa rahmat Allah memang bertebaran di mana-mana. Sejak sumpah dokter, my husband (MH) udah bercita-cita buat ngedaftar TKHI (tenaga kesehatan haji indonesia). Sudah bisa haji gratis... dapat honor pula. Semua dokter (umum) memang bercita-cita punya duit banyak. Biar bisa sekolah lagi. Tahu sendirilah, biaya kuliah spesialisasi denger-denger sampai ratusan juta. Makanya, penghasilan dokter umum dibanding dokter spesialis bisa 1 : 20, padahal konon penguasaan ilmunya cuman 8 : 10. Artinya, seorang dokter umum sebenarnya udah bisa nanganin 80% penyakit. Bener nggak nich para dokter? Saya sih pernah membaca di sebuah artikel, tapi lupa judulnya dan dimana ngebacanya. Anyway... just not for money aja sih, pokoknya banyak alasan yang bikin suami ngedaftar TKHI.


Tapi itulah, ternyata tahun lalu dia enggak diterima. Tahun ini, dia ndaftar lagi, dan tidak diterima lagi. Namun, qudarullah, 3 bulan sebelum musim haji, mendadak MH mendapat panggilan untuk pelatihan TKHI. MH diterima TKHI. Kabarnya ada dokter dari Kebumen yang hamil, jadi batal berangkat dan peluang diberikan kepada suami saya. Alhamdulillah... kebayanglah... betapa heboh reaksi keluarga kami. Maklum, buat yang punya duit aja susah nembus haji karena kuota haji hingga 2010 udah penuh. "Mas, bisa jadi ini berkah Mas jadi relawan di Bulan Sabit Merah dulu," ujarku. Suamiku diam, tapi aku bisa menebak isi hatinya. Berkah aja, jangan pahala, pahalanya besok aja, di akhirat.

Begini temans, dulu pas gempa di jogya, MH memang sebulan penuh ngurusin pasien, sampai ninggalin kerjaan tuh. Tapi, sudahlah... jangan dibicarakan ya?!
Nah, akhirnya, dia pun terbang... jauh ke sana, tanah suci. Sebelum itu, nuansa haji sudah dibangun. RIngtone HP-nya lagu Mas Opick, demikian juga alarmnya (sehari suami bisa lebih dari 5 kali ngederingin tuh alarm). Anak-anak sampai apal... "Labaikallahumma labbaik..."
Hm, baru 20 harian (eh, belum ada ya, kan dia berangkat tanggal 25 Nov) ditinggal, duh... rasanya kangen be-eng. Mungkin kesunyian yang dialami, khususnya saat sore hingga malam dan sampai pagi, memiliki kontribusi membangun istana kekangenan yang jika diibaratkan seperti bangunan salju yang beku. TOlong maklumi, saya dan suami, merantau di SOlo, jauh dari ortu dan keluarga besar, ngontrak di sebuah rumah berkamar 2. Ndak punya pembantu, ada cuma khadimat pocokan, adanya cuma pagi-siang, sore pulang. Jadi, kalau malam cuma ada 1 makhluk besar (saya) plus 2 makhluk kecil, si Anis (4 th) dan si Rama (2 th). Kebayang kan? Kalau nggak kebayang, yang dipaksa aja ngebayangin, hehe...
Kedua pasang ortu kami punya kesibukan. Bapak+ibu mertua merawat kakak mereka yang udah manula, ibu merawat bapak yang sakit-sakitan. Anyway... pantanglah, ngerepotin mereka. Lagipula, saya nggak repot, cuman sepiii...
Untungnya, saya memang terbiasa dalam keheningan. Dalam waktu beberapa pekan ini, aktivitas utama saya kalau malam adalah membaca. Sudah 3 buku Agatha Cristie, 2 buku tulisan Eyang Suparto Brata, 1 buku John Grisham saya lahap. Sekarang, sedang membaca "Kerajaan Petrodollar". Yang ngantri cukup panjang: The Kite Runner, Hebron Journal, The Recluctant Fundamentalist... banyak deh. Saya juga sibuk nyelesein sequel De Winst yang saat ini sudah 100 halaman A4 spasi 1. Tunggu deh tanggal terbitnya:-). Saya merasa, rasa kangen, rasa sepi, rasa hampa, kudu diisi dengan kerja keras. SAmpai-sampai saya ikut ngebantu editor Indiva ngedit Al-Itqon fii Ulumil Qur'an-nya Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi yang tuebel bin rumit arabic-nya. Baru menyadari bahwa energi yang menguar dari rasa kangen ini ternyata luar biasa juga hehe... Ah, ya... sampai-sampai harus langganan 5 koran khusus hari minggu, coz hari minggu kantor tutup.
Masih 22 hari lagi MH pulang. Semoga ia bisa pulang dengan selamat, dalam kondisi sehat, serta penuh semangat. Oya, hari ini MH SMS, intinya... "Cemburu sama jamaah haji yang datang berpasangan dan memasuki Kakbah dengan mesra, pokoknya kita harus nabung biar bisa datang berdua ke tanah suci."
Amiin.
Oya, ada hikmahnya juga ditinggal Abahnya. Anak saya yang pertama (Anis) jadi makin bijak. KEmarin ia menasehati saya, "Ummi, makanya makan yang banyak, biar besar kayak Bude Jamilah... (yang momong, TB/BB kira-kira 170-65, bandingkan dengan saya yang only 150-42)"
Aku cuma nyengir sambil memeluk si cute itu, "Ya Mbak Anis sayang, Ummi mau makan yang banyak..."

Selasa, 11 November 2008

Pengumuman Lomba Resensi Indiva 2008

PEMENANG LOMBA RESENSI INDIVA 2008

Assalamu'alaikum
Ini ada titipan dari kru Indiva Media Kreasi

Pemenang Lomba Resensi Indiva 2008
Juara 1: Riawani Elyta, Riau (De Winst: Maskulinitas Seorang Afifah Afra)
Juara 2: N. Mursidi, Tangerang (De Winst: Menawarkan 'Jalan Tengah' Lewat Novel)
Juara 3: Muhammad Istbatun Najih, Yogyakarta ( And The Star is Me: Jadilah Bintang Sekarang!)

Juara Harapan 1: Santi Pratiwi Tri Utami, Klaten (Pilkadal di Negeri Dongeng: Potret Dunia Politik Indonesia)
Juara Harapan 2: Maria, Surakarta (And The Star is Me: Let's Start tobe a Star)
Juara Harapan 3: Dini Nurhayati, Cirebon (De Winst: Drama Cinta Berbalut Ideologi)

Selamat untuk pemenang!

Selasa, 07 Oktober 2008

Lebaran Oh Lebaran


ELEGI LEBARAN

by Afifah Afra

Lebaran yang barusan lewat, entah mengapa, ada yang terasa hilang—jauh di lubuk hati sana. Terasa nyenyet. Ingin melacaknya, tetapi jalur pelacakan itu seperti tertutup kumparan mendung. Ndak tahu ya, rasanya kok biasa banget, tidak seperti masa-masa beberapa tahun silam, saat saya masih culun, masih menjadikan lebaran sebagai special day dalam artian yang lebih runcing. Lebih menikam, lebih khusus dari sekadar ritualisme tahunan.
Lebaran bagi saya saat kecil adalah: baju baru, dor-doran mercon, ketupat, opor ayam, kering tempe, kue-kue, angpao dari seabrek family… Maka, ketika rezeki ortu cupet, lagu Dea Ananda benar-benar mampu menghibur kesedihan masa kanak-kanak saya:

Baju baru alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak ada pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama

Saat beranjak besar, menjadi remaja, kemeriahan itu bertambah satu lagi: bertemu dengan sanak sodara yang pada merantau. Maklum, saya ini berasal dari keluarga besar. Bapak dianugerahi 8 anak oleh Allah. Saya nomor 6. Dari 8 orang itu, 5 di antaranya perantau. Mbak yang sulung merantau ke Jakarta, demikian juga Mbak nomor 5. Sedangkan Mbak nomor 4 merantau di Surabaya. Saya sendiri menuntut ilmu di Semarang, sekota—namun berbeda universitas dengan adik saya, anak nomor 7. Karena anak nomor 2 dan 3 sudah menikah dan hidup terpisah dengan ortu, meski masih satu kampung, praktis rumah ortu yang luas itu terasa senyap karena hanya ditempati bapak, ibu dan si bungsu. Pembantu? Hm… selain penghasilan ortu pas-pasan, ibu saya adalah seorang yang begitu perkasa—seperti tak pernah kehabisan tenaga, meski komplek rumah saya nyaris seluas 500 meter persegi, rasanya tak ada yang terbengkalai hingga sudut-sudutnya.

Bisa dibayangkan, lebaran adalah saat-saat yang indah, saat-saat mempertemukan raga yang terpisah. Rumah yang keseharian begitu senyap, menjadi ramai—seperti pasar kaget. Saat itu, dari 8 anak, baru 3 yang menikah, yakni nomor 1, 2 dan 3. Kakak pertama selalu datang bersama suami dan anak-anaknya. Kakak kedua dan ketiga ikut meramaikan suasana. Tumplek blek personil keluarga besar membuat rumah benar-benar berantakan. Bale rumah beralih fungsi menjadi lapangan volley. Keponakan saya—Angga, Galang, Aji, Damar… dimeriahkan oleh kedua adik saya, Anang dan Uut yang selalu saja ‘berubah’ menjadi kanak-kanak meski ‘dedeg’nya remaja—main lempar tangkap bola dan…
“Pyaaar…!!”
“Auuw!!” Mbak Tini, kakak nomor 5 menjerit, vas bunga kesayangannya remuk. Riuh sesaat, tapi tak ada dendam.

Sehari sebelum ramadhan, rasa-rasanya seperti sedang punya hajatan. Semua sibuk dengan fokus keahliannya masing-masing. Ada yang bikin kue—sagon tabur, kacang bawang, telur gabus, kembang goyang, nastar, kue kacang… hm…; ada yang mengasah pisau di kebun, menyembelih seekor dua ekor ayam jago yang akan kami sulap menjadi opor nan lezat; ada yang menganyam janur-janur kuning menjadi ketupat; ada juga yang sibuk memasang kancing baju baru atau mengesum baju, membantu ibu yang memang berprofesi sebagai penjahit. Sesaat menjelang lebaran, para pelanggan berdatangan, mengambil baju-baju mereka yang dijahitkan, tentu disertai dengan pembayaran ongkos jahitan. Tak seberapa, namun cukup berarti. Bapak yang hanya guru SD (kalau guru SD zaman sekarang gajinya sih lumayan, nggak seperti saat itu), dengan gaji yang banyak bolong-bolong karena potongan, tak akan bisa diandalkan untuk membiayai gemah ripah lebaran—yang meski tak mewah, namun tetap menuntut biaya. Senyum gembira seakan menghilangkan kerut keletihan di wajah ibu yang saat ramadhan benar-benar kurang tidur, selain beribadah di malam hari, juga melembur garapan baju-baju itu. Ah, ya… baju-baju itu jugalah yang terkadang menyelamatkan kuliahku—selain jatah ‘beasiswa’ dari kakakku yang bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik garmen.

Menjelang adzan maghrib di puasa terakhir, suasana meriah menjalar hingga relung hati. Para keponakan berteriak-teriak kegirangan mendengar suara beduk bertalu-talu di masjid. Bau sedap opor ayam terasa dari dapur rumah kami yang saat itu masih mengandalkan energi kayu bakar. Lezatnya ketupat yang tanak mencubit-cubit selera makan. Riuh rendah dan gelak tawa para saudara memaksa bibir untuk tersenyum lebar bahkan terbahak.

Lantas, malam takbiran. Kami berkumpul di ruang depan yang luas. Menunggu takbir keliling dengan atraksi obornya. Atau justru terlibat ‘berhallo-hallo’ dengan mikropon, menyenandung takbir di masjid, seraya merasakan nikmatnya kue-kue yang dipasok warga setempat khusus untuk para jamaah masjid yang bertakbir. Aku yang perempuan jelas tak mungkin berlama-lama, berbeda dengan adikku, Anang yang juga takmir masjid, yang bisa semalaman menyanyikan lagu-lagu cinta untuk Sang Maha Pecinta.

Paginya, mulai jam 4 pagi, antrean panjang terjadi di depan kamar mandi. Kritikan yang ‘begitu-begitu aja’ pun keluar bertubi-tubi. Gimana sih, tahu anggota rumah banyak kok kamar mandi cuman satu… Bapak cengar-cengir saja, santai… hm, moga-moga sikap bapak tidak ditiru oleh para pejabat. Tahu tiap lebaran pemudik membeludak kok tidak ada antisipasi. Ups, malah bapak selangkah lebih maju daripada para pejabat. Saat ini, di rumah ortu ada 3 kamar mandi, meski hanya 2 yang bisa dipakai orang dewasa. Yang satu… khusus untuk anak-anak. Jangan kaget, air bisa mengalir 24 jam tanpa henti tanpa harus bayar sepeser uang pun. Maklum, bapak mengambil air langsung dari sumber air, memakai pipa. Biayanya pas pada pemasangan doang, plus kalau ada kerusakan, buat biaya perbaikan. Karena berlebih, bapak membuat kolam ikan, 5 kolam sekaligus. Airnya dijamin sueger… persis air di Tawangmangu. Ya, rumah ortu memang terletak di kaki Gunung Slamet, kira-kira ketinggian 700-800 m dpl.

Habis mandi, semua berdandan, memakai baju terbaik. Para anak-anak, jelas baju baru. Yang remaja dan dewasa, tak selalu. Tetapi yang jelas kami terlihat cantik dan ganteng. Dan catat, sebagian dari kami adalah lajang!!

Lantas, kami pun berjalan ke lapangan sepak bola desa kami, kira-kira 1 KM dari rumah. Ribuan jamaah berduyun-duyun memenuhi lapangan, menciptakan panorama yang apik, baik dilihat dari mata fisik maupun diresapi oleh mata batin. Gemuruh takbir menggema. Tak terasa air mata mengucur deras. Kutatap langit, awan ikut bertakbir. Kutatap gunung Slamet… ia juga bertakbir. Lantas, shalat berjamaah. Ribuan jamaah puteri dengan mukena putihnya berbaris, ketika mereka serempak bersujud, mirip alunan ombak yang bergulung-gulung di lautan luas nan damai…

Allahu Abar… Allahu Akbar… Allahu Akbar
Laa Ilaaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar walilahilhamd…

Usai shalat, kami bersalam-salaman dengan jamaah yang lain. Terasa melelahkan, sehingga ketika saatnya tiba, saat kami menyantap hidangan khas: sepiring ketupat dan opor ayam serta kering tempe, nikmatnya melejit hingga tulang ubun-ubun.

Seperti biasa, kami pun berkeliling, mengunjungi sanak-saudara… bersalaman, ngobrol-ngobrol, makan-makan, tertawa-tawa… (selera humor keluarga besar kami terkadang mengalahkan banyolan Thukul lho…).

* * *

Jauh sebelum lebaran tahun ini, saya telah membisiki suami saya, “Mas… saya ingin merasakan takbiran dan shalat ied di kampung.”

Suami saya mengangguk, maklum. Ya, Ini adalah lebaran kelima pasca saya menikah dengannya. Lebaran pertama, saya hamil besar sehingga memutuskan tidak pulang kampung. Takbiran dan shalat Ied di Solo. Saya sudah bersikeras untuk pulang, karena HPL adalah 2 mingu pasca lebaran. Suami ngotot. Dan ia benar, hari ke-3 saya mulai kontraksi dan hari ke-4, jam 09.00, saya melahirkan. Lebaran kedua, kami takbiran dan shalat ied di rumah suami—Purworejo. Lebaran ketiga, lagi-lagi hamil besar. Kali ini saya malah masuk RS dan melahirkan hari terakhir puasa (kalau versi Muhamadiyyah 1 Syawwal). Karena RS yang saya masuki adalah RSU PKU Muhammadiyah, maka ketika para perawat dan dokter berjibaku menolong saya melahirkan—saat itu KPD—di halaman RSU sedang berlangsung shalat Ied. Lebaran keempat, lagi-lagi takbiran dan shalat ied di rumah Mertua.

Maka, saya pun benar-benar bersemangat ketika pulang kampung. Namun, alangkah lemas kaki saya saat itu. Kakak pertama sakbrayat—bersama suami dan ketiga puteranya—tidak pulang kampung. Lebaran di Sragen. Kakak kedua, ketiga dan keempat memang menetap di kampung yang sama dengan ortu, namun mereka telah memiliki rumah masing-masing. Kakak kelima mudik ke Madiun, ikut suami. Adik saya Anang, lebaran di rumah Mertua di Solo. Praktis di rumah besar itu hanya ada bapak, ibu, saya sekeluarga dan si bungsu—satu-satunya yang masih lajang.

Takbiran terasa hampa. Ketika aku mengajak anak-anakku—Anis dan Rama menunggu atraksi obor, ternyata yang hadir hanya serombongan pendek anak-anak kecil yang membawa lilin dengan botol aqua. Bagi Anis dan Rama, ini hebat. Tetapi bagiku yang pernah menyaksikan atraksi obor sangat unik dengan peserta ribuan orang disertai dengan beduk bertalu-talu, ini bukan apa-apa.

Takbiran terasa nyenyet. Ibu yang tampak sedih karena anak-anaknya tak berkumpul—namun mencoba menutupinya—malah kelelahan dan tertidur sebelum jam 9. Bapak yang memang sudah lama sakit-sakitan juga tidur usai shalat Isya. Uut, satu-satunya anak selain diriku, juga terkantuk-kantuk. Sementara suami masih dalam perjalanan. Saya masih mencoba mencari sesuatu yang hilang itu. Saya mengajak Uut untuk bersilaturahim di rumah kakakku nomor 4. Tetapi, mereka pun sudah nyaris ‘off’, hampir tertidur. Karena tak mau menganggu, kami pun pamitan. Akhirnya, karena putus asa, aku pun memutuskan untuk ‘ngeloni’ anak-anak. Pukul 10 malam, suara mobil memasuki halaman. Mas Ahmad. Aku terlonjak gembira. Namun, begitu sampai di rumah, yang ia lakukan adalah, mandi, minum seteguk air dan… tertidur. Ia terlihat sangat capai.

* * *
Paginya, saya memang menikmati kekhusyuan shalat ied di lapangan yang tak sepenuh biasanya—mungkin karena sebagian warganya berlebaran di tempat lain—seperti yang terjadi di keluargaku. Meski Rama dan Anis justru menangis mungkin karena tak biasa berada dalam kerumunan ribuan manusia, kupaksa untuk larut dalam lantunan ayat-ayat yang dibaca imam.
Usai shalat, semua berjalan begitu nyenyet. Tak ada keriuhan, canda-tawa. Ya… ada yang hilang… kebersamaan itu. Kini aku menyadari, bahwa semua telah berubah. Kakak-kakak, adik-adik, telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Bahkan aku pun telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Ya, kami—para anak—mungkin bisa menikmati kebersamaan itu dengan kehidupan yang baru. Namun bagaimana dengan bapak? Dengan Ibu?

Apakah mereka telah siap dengan kehilangan itu? Dan bagaimana dengan saya kelak. Apakah saya siap jika satu per satu anak-anak kami menikah, berkeluarga dan sibuk dengan kehidupan baru ‘mereka’?

Rona kesedihan terpatri begitu dalam ketika akhirnya aku berpamitan. Aku, suami dan anak-anak harus beranjak ke Purworejo, mengunjungi mertua. Rumah besar itu pun tampak muram….

“Anak satu sama anak delapan sama saja,” keluh Ibu pada adiknya yang memang baru dianugerahi satu orang anak di suatu hari, yang sempat tertangkap pendengaranku. “Saatnya tiba, kita orang tua akan ditinggalkan oleh mereka.”
“Bagaimana dengan kita kelak, Mas?!” ujarnya pada Mas Ahmad, suamiku.
“Anak kita bukanlah milik kita, mereka adalah milik zamannya…” Jawab suamiku, kalem, dan bijak.

* * *
Akhirnya saya hanya bisa berpuisi:

Maafmu, pengetuk surga.
Selusupkan maafmu di ujung jemariku
Agar kuasa kuketuk pintu surga-Nya

Taqobbalallahu minna wa minkum

Senin, 08 September 2008

Berburu Royalti yang Tak Terputus

Anda ingin mendapatkan royalti yang bersifat abadi? Royalti dari Allah SWT? Dijamin akan mengalir lancar, dan sama sekali tidak dicurangi.
Bergabunglah sebagai donatur program ZISWAF (Zakat Infak Shodaqoh dan Wakaf).
Beberapa ladang amal yang bisa menjadi sarana Anda bercocok tanam untuk akhirat:

1. Zakat Mal (tergantung jumlah harta yang mencapai nishab)
2. Wakaf (terserah anda)
3. Fidyah (Rp 10.000 x hari yang ditinggalkan)
4. Infak (terserah Anda)
5. Bingkisan untuk anak yatim/ dhuafa
Juga menerima infak berupa barang yang bermanfaat seperti pakaian, mukena, Al-Quran, buku bacaan dsb.
Keterangan: karena ramadhan sudah berakhir, maka paket buka bersama, paket lebaran dan zakat fitrah sudah tidak kami terima lagi.

ZISWAF tersebut insya Allah akan disalurkan melalui beberapa lembaga yang insya Allah amanah dan terpercaya seperti: LAZ (Lembaga Amil Zakat) Al-Ihsan, Surakarta; Forum Lingkar Pena; Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pinggiran (PPAP) Seroja, Surakarta; Bina Insan Vokasi.

Bantuan berupa uang bisa dikirim ke no rek 359 004 0559 BCA Bobotsari a.n. Yeni Mulati
Sedangkan berupa barang bisa dikirim ke Jl. Anggur VII No. 36 Jajar, Laweyan, Surakarta. Informasi lebih detail mohon dikirim via SMS 0815-6569225 atau email afifahafra@yahoo.com

Daftar donatur akan ditayangkan melalui blog ini. Hingga hari ini, donatur yang telah bergabung adalah sebagai berikut:

1. dra. Widhi Hartati (SMA Muh 1 Cilacap), 5 paket buka puasa, Rp 50.000
2. Hamba Allah (Solo), 5 paket buka puasa, Rp 50.000
3. Ifa Afianti (Jakarta), infak, Rp 15.000
4. Jazimah al-Muhyi (Batang), 3 paket buka puasa, Rp 30.000

5. Gita Swary (Cikampek), paket buka puasa dan bingkisan dhuafa, Rp 270.000
6. PT Indiva Media Kreasi, zakat buku, Rp 3.500.000
7. FLP Hongkong, shadaqah, Rp 2.365.500
TOTAL : Rp 6.280.500

Anda hendak menyusul?

PENYALURAN
VIA LEMBAGA
1. Panti Asuhan Anak Yatim Aisyiah, Simo, Boyolali: Paket buku, Rp 800.000
2. Paket buka bersama LAZ Al-Ihsan: 30 paket, Rp 300.000
3. Perpustakaan Masjid Al-Islam, Surakarta: Paket Buku, Rp 500.000
4. Perpustakaan panti-panti asuhan via LAZ Al-Ihsan: Paket Buku, Rp 2.200.000
5. Program Pemberdayaan Kaum Dhuafa, via LAZ Al-Ihsan, Rp 1.015.000
6. Paket Buka Puasa Masjid Al-Islam, Surakarta, Rp 100.000
7. Paket lebaran dhuafa (via LAZ Al-Ihsan): 2 paket, Rp 100.000

DISALURKAN SECARA LANGSUNG
1. Bantuan pendidikan anak yatim (Siti Aisyiah), Rp 100.000
2. Bingkisan lebaran kaum Dhuafa, 8 paket, Rp 400.000
3. Bantuan Pengobatan Bpk. Sumbadi (operasi tenggorokan), Rp 100.000
4. Biaya operasi Wahyu Hidayat (operasi megakolon), Rp 200.000
5. Dakwah Fii sabilillah FLP Jateng, Rp 300.000
6. Bantuan Pelatihan Manajemen Organisasi DAkwah, Yayasan Bening Nurani, Rp 165.500

Total penyaluran: Rp 6.280.500

SISA DANA Rp 0

Kamis, 04 September 2008

Bahasan Pekan Ini

Andi F Noya dan keputusan hidupnya

Saya ingin memberikan komentar atas tulisan Andi F Noya ini. Akan tetapi, sebelum saya bahas lebih lanjut, silahkan pembaca yang budiman menganalisisnya terlebih dahulu. Jadi, selamat membaca!

Banyak yang bertanya mengapa saya (Andi F. Noya) mengundurkan dirisebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untukmeyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karenapecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukandalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisiyang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuahstasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusansulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluangbeasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan keSekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiribeban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untukmengundurkan diri dari Metro TV.


Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang sayakagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisamengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan didalam kolam.Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikantersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja,sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV.Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move MyCheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang duakurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju.Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempatmereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dankesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siapmencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begituyakin sampai kiamatpun persediaan keju tidak akan pernah habis.Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajaksahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempatlain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan olehseseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itutidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Makadia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari kejuyang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu danmenunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalusiap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauhlebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasanyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri gunamenghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidakmau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akanmati digilas waktu. Setelah membaca buku itu, entah mengapa adadorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairahyang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluardari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiaphari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikutilentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya inginberdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yangdinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesanyang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hatisaya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyakorang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orangyang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorangkenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaanasuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang danjabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanyaada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat.Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupanekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisahidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia. Ketika diminta untukmenjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyakmahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang.Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yangjujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga)atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyakmengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat merekatidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusanbesar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat danlulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambilkeputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masakmemasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai danmenghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak ditelevisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagiadengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanyamenghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untukmenggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapatbeasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolahanimasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercintamereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.

Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncaksebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan.Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali danbekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalamkehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyakyang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja dibidang yangdicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitugembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu sepertirekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salahsatu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah RollingStone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji.Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yonmampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semuakarena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya.Cintasaya. Hidup saya, katanya.Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya.Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalahberekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Jumat, 04 Juli 2008

Buku, Antara Sepiring Makanan dan Meditasi

Afifah Afra

Andai Buku adalah Sepiring Makanan
Apa yang terbetik di benak anda ketika bermaksud banting setir menjadi penjual makanan? Pertama, mungkin, adalah jenis makanan apa yang akan anda jual. Suatu saat, anda barangkali pernah mendatangi sebuah restoran yang sangat mengesankan. Sayangnya, hidangan yang tersaji di sana, nyaris semua produk koki supersenior yang pengelolaannya begitu rumit, di mana anda tentu membutuhkan banyak hal—yang sebagian belum anda kuasai—untuk bisa mensejajari restoran tersebut. Anda tentu akan berpikir realistis, yakni memilih makanan yang anda kuasai penggarapannya.

Lantas, anda akan menurunkan standar, kepada jenis makanan yang lain. Bakso, makanan padang, makanan tegal, mie ayam, steak... atau yang lain. Namun, pada saat itu, anda akan terbentur pada sebuah fakta: betapa banyak warung yang telah dibuka khusus untuk menjual makanan tersebut. Jika anda hanya sekedar me too, akan ada sebuah persaingan yang lumayan berat. Sehingga, satu-satunya pilihan yang diambil adalah, anda harus bisa menemukan sebuah menu yang unik, yang menarik, yang tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya.

Namun di dalam ini, anda perlu hati-hati. Keunikan itu tidak lantas membuat anda terlena dan yakin, bahwa makanan anda pasti laku. Harus ada cita rasa khusus yang membuat orang merasakan istimewanya sebuah makanan, yaitu rasa lezat yang memanjakan lidah. Seunik apapun sebuah masakan, sebagus apapun penyajiannya, rasanya tak akan ada orang yang mau melahapnya jika rasanya hanya sekedar asin, bukan? Bukankah tujuan utama seorang pembeli makanan adalah, rasa lezatnya itu?

Dan sebagai seorang pedagang yang baik, tentunya anda tidak akan menjual makanan yang tidak sehat dan bergizi, bukan? Akhir-akhir ini, banyak para produsen yang tidak peduli pada kesehatan dan gizi yang terkandung di dalam hasil produksinya. Asal lezat—meskipun isinya hanya sekadar sampah—bahkan mungkin bahan kimia berbahaya, dengan tenang mereka melepasnya ke pasaran. Yang penting duit terkumpul, tak peduli di tubuh konsumen, makanan yang kita jual berubah menjadi sekumpulan benda asing yang merugikan.

Ada kalanya segala sesuatu itu bisa dibandingkan, termasuk antara buku dan sepiring makanan. Agar memuaskan konsumen, baik penyaji makanan maupun seorang penulis buku, harus bisa memenuhi seperangkat persyaratan yang saya sebutkan (sebagian) di atas.

Andai Menulis Buku adalah Sebuah Meditasi

Namun menulis sebuah buku, ternyata lebih kompleks daripada sekadar memasak menu makanan. Pada saat menulis buku, keseimbangan antara otak, ruh dan jasad lebih diutamakan. Terutama jika kita ingin menjadi penulis buku yang ‘tidak sembarang penulis buku’, yakni penulis yang visioner dan memiliki keyakinan besar, bahwa dengan menulis, sebenarnya ia tengah menyebarkan visinya tersebut kepada pada pembaca. Meyakini bahwa menulis adalah salah satu misi hidupnya. Kita bisa melihat, bahwa visi hidup seorang penulis, akan terlihat jelas pada corak karya yang dihasilkannya.

Karena menulis adalah sebuah ‘tugas berat’, maka dibutuhkan selongsong energi yang juga tidak remeh. Menyiapkan sebuah karya tulis, adakalanya mirip sebuah proses meditasi. Proses yang akan mengantarkan pada puncak konsentrasi, yakni kondisi di mana terjadi efisiensi energi yang optimal pada otak kita. Kondisi di mana kita akan bisa menorehkan berbagai kejutan spesifik yang terkadang tidak kita sadari tahapan-tahapan yang terlampaui. Inilah yang oleh Goleman disebut sebagai keadaan ‘flow’. Keadaan yang sering dialami para juara saat menoreh puncak prestasinya.

Bagaimana cara agar kita bisa mendapatkan kondisi semacam itu? Jawabnya adalah pada ketrampilan kelas tinggi, yang harus kita usahakan setiap hari. Jadi, menulis buku—yang tidak sekadar buku, ternyata sebuah akumulasi dari kebiasaan menulis—yang membutuhkan waktu cukup lama. Bagaimana dengan anda?